Beranda
Ringoku kara Kita Yome ga Kawai Sugite Dou Shiyou. Fuyu Kuma to Yobareru Ore ga Aite de Hontou ni Ii no ka!
Chapter 1

Chapter 1

Rion
Juli 30, 2025

[Chapter 1: Tunanganku, Terlalu Imut]

Judul Novel: Ringoku kara Kita Yome ga Kawai Sugite Dou Shiyou. Fuyu Kuma to Yobareru Ore ga Aite de Hontou ni Ii no ka!
Volume 1 - Chapter 1| Diterjemahkan oleh: Randika Rabbani [Hinagizawa-groups]

Estimasi waktu baca...

Sesuai dengan instruksi yang kudengar berulang kali dari ajudanku, Raul, sampai telingaku pegal, aku mulai berjalan menuju ruangan dalam tempat tunanganku, sang nona kepompong putih, menunggu.

Di altar katedral yang terletak di dalam istana, biasanya ada seorang pendeta, tapi hari ini tidak ada siapa pun. Upacara pertunangan di Kerajaan Tidros lebih seperti pertemuan formal antara kedua keluarga. Ucapan sumpah dan sejenisnya kepada pendeta di altar akan dilakukan pada saat upacara pernikahan.

Cahaya warna-warni dari jendela kaca patri di atas menerangi kerudung nona kepompong putih itu.

Aku melirik ke arah dinding tanpa menarik perhatian.

Di kursi yang telah disiapkan, duduk orang tuaku, Raja serta Ratu Tidros. Lalu, kakak laki-lakiku, Putra Mahkota. Dan di sebelahnya, ada Tuan Balmore.

Sebulan yang lalu, Kerajaan Tania secara resmi mengajukan lamaran pernikahan kepada negara kami, Kerajaan Tidros.

Aku sangat terkejut karena kupikir mereka pasti akan menolak.

Setelah itu, persiapan pun dilakukan dengan cepat.

Meskipun tidak enak dikatakan, semua persiapan di pihak mereka sudah selesai, jadi kami hanya perlu menyiapkan sisanya.

Tapi...

Tanpa sadar, aku mengerutkan kening.

Apa aku benar-benar pantas?

Dan saat aku sedang memikirkan hal itu, aku mendengar suara dehaman dari belakang.

Aku tetap berjalan santai di atas karpet merah dan hanya menggerakkan mata. Raul sedang memelototiku. Sepertinya dia ingin aku fokus dan cepat berjalan.

Raul adalah pria yang akan berusia tiga puluh tahun ini.

Dia adalah saudara sesusuku, dan dia menjabat sebagai wakil komandan di pasukan ksatria.

Raul yang berwajah tampan cukup populer di kalangan wanita, tapi dia selalu berkata, 『Aku tidak bisa memikirkan pernikahan sebelum Komandan menikah.』

Setiap kali dia mengatakan itu, aku selalu menggodanya, 『Kalau kau menungguku, kau akan jadi kakek-kakek, tahu.』 Tapi, aku jadi teringat kejadian tadi malam. Saat kami minum bersama, dia tiba-tiba menangis sambil berkata, 『Sekarang aku bisa menikahi gadis yang kucintai dengan tenang.』 Mengingat itu, tanpa sadar, aku tersenyum.

Ternyata Raul juga ingin menikah.

Aku tertawa kecut dan berpikir, aku telah melakukan hal yang buruk.

『Alasan Komandan tidak populer adalah karena Komandan tidak berusaha, pakaian dan rambut Komandan itu norak.』

Raul selalu mengatakan itu dengan wajah masam, tapi aku selalu berpikir bahwa pakaianku cukup bisa dipakai, dan penampilanku juga cukup bersih.

Lalu, tiba-tiba muncul lamaran pernikahan ini.

『Dengar, jangan sampai kau melakukan kesalahan.』

Suatu hari, tiga hari sebelum upacara pertunangan, Kakak pertamaku, Putra Mahkota dan kakak keduaku yang bergegas pulang dari negara tempatnya menikah menekanku.

『Ini harta karun tak terduga. Untung saja Putra Mahkota Luminas itu idiot.』

Putra Mahkota dan kakak keduaku tersenyum jahat.

Seriusan, kenapa para wanita menyukai pria licik seperti mereka?

Tanpa memedulikanku, Putra Mahkota memanggil penjahit, dan kakak keduaku menginstruksikan Raul, 『Buat dia semenarik mungkin. Dasarnya seharusnya dia tidak seburuk itu.』

Hasilnya.….

Aku mengenakan seragam militer terbaik, rambutku ditata sesuai tren terbaru, jenggotku dicukur rapi, dan sekarang aku berdiri di sini.

『Sebenarnya, seperti apa Nona Citroen itu?』

Ibu dan Ayah setuju dengan pernikahan ini, Putra Mahkota juga mendukungnya, jadi aku tidak punya hak untuk menolak. Tapi, aku penasaran dan bertanya.

『Namanya Citroen Balmore. Keluarga Balmore sepertinya masih memiliki hubungan darah dengan keluarga istana kerajaan Tania. Usianya dua puluh tahun. Dia datang ke Federasi Caravan dua tahun lalu untuk belajar sekaligus mempersiapkan pernikahan, tapi mantan tunangannya, Putra Mahkota Arios, tidak menyukai penampilannya, dan hubungan mereka tidak dekat. Jadi, jangan terlalu berharap, ya.』

(TLN : Federasi disini itu, bisa dibilang gabungan 5 kerajaan yang ada di benua ini lah, ibarat seperti persatuan tapi bukan aliansi, ada aturan dan batas yang harus ditaati oleh 5 kerajaan ini, makanya dibuat lah Federasi.)

Putra Mahkota berkata dengan terus terang.

Yah, kurasa mereka juga tidak berharap banyak pada penampilanku, jadi kita impas.

『Tapi, dengar. Katanya dia punya Tanda Naga. Hebat, kan!』

Kakak keduaku menjelaskan dengan sedikit bersemangat.

Tanda Naga. Aku pernah mendengarnya.

Kerajaan Tania juga dikenal sebagai "Negara Naga".

Naga sangat erat kaitannya dengan berdirinya negara itu, dan anggota keluarga istana kerajaan memiliki tato ‘sisik’ yang disebut Tanda Naga di tubuh mereka.

Dengan kata lain, Tanda Naga di tubuh adalah bukti bahwa seseorang adalah anggota keluarga istana kerajaan.

Menikahi atau menjadikan seseorang yang memiliki Tanda Naga sebagai bawahan adalah suatu kehormatan yang luar biasa.

Tapi di sisi lain, memang ada orang yang diam-diam menertawakan Tanda Naga sebagai tradisi barbar atau menyebut mereka manusia kadal. Kecenderungan ini semakin kuat di negara-negara yang sedang berkembang pesat. Mereka tidak menghargai sejarah dan tidak memiliki toleransi untuk menghormati atau memahami budaya negara lain.

Aku berhenti tepat di samping nona kepompong putih itu.

Karena dia tertutup kerudung dari ujung kepala hingga ujung kaki, aku tidak bisa melihat wajahnya, tapi dia terlihat mungil.

Kepalanya kira-kira setinggi dadaku.

Aku harus membungkuk cukup dalam untuk menciumnya.

Kedua kakakku dan Raul menyuruhku untuk mengangkat kerudung dan mencium keningnya.

"Cium kening" yang terkenal itu.

Siapa sangka aku akan mencium kening nona kepompong putih yang kulihat waktu itu.

Tiba-tiba, nona kepompong putih itu bergerak. Sepertinya dia sudah berhadapan denganku.

Karena dia tertutup kerudung seperti kepompong, aku tidak tahu mana depan dan mana belakang.

Aku melirik ke arah para tamu undangan. Putra Mahkota memberi isyarat dengan dagunya, menyuruhku untuk melakukannya. Aku merasa seperti penjahat.

Raul yang berjalan di belakangku berdiri menghalangi jalanku seolah mencegahku melarikan diri. Tidak, aku tidak akan melarikan diri.

Aku mendengar suara langkah kaki. Saat aku melihat ke belakang nona kepompong putih itu, seorang pelayan wanita berjalan ke depan. Saat mata kami bertemu, pelayan itu berlutut dengan hormat.

Sepertinya dia ingin aku mengangkat kerudungnya.

Aku meraih kerudung itu dan menariknya dengan cepat.

Kain renda halus itu melayang di udara, lebih ringan dari jaring laba-laba.

Aku tercengang saat melihat nona kepompong putih yang muncul dari balik kerudung itu.

Rambut peraknya lebih jernih dari mata air.

Kulitnya yang halus terlihat seputih porselen karena terkena cahaya dari jendela kaca patri.

Wajahnya cantik, dan tubuh langsingnya terbalut gaun putih bersih.

Dan sekarang, aku menatapnya dengan takjub.



...Gadis ini...

Di mana...

Di mana letak keburukannya?!

".…..Maaf, permisi sebentar."

Aku mengerang sambil menutupi wajahku dengan tangan kiri dan menggenggam kerudung dengan tangan kanan.

"Tunggu sebentar, pihak keluarga kerajaan Tidros. Bisakah kalian berkumpul sebentar?"

Meskipun aku dijuluki Beruang Musim Dingin Tidros dan bahkan binatang buas pun takut padaku, suara yang sangat menyedihkan keluar dari mulutku.

Putra Mahkota buru-buru berdiri, dan Ayah membeku dengan wajah pucat...

Yah, aku juga sedikit bingung.

"A-ada apa, Komandan?"

Raul dengan cepat meraih lenganku dan mendekatkan wajahnya.

"Ada apa, Saryu?"

Putra Mahkota ikut nimbrung dan memarahiku dengan suara pelan, tapi aku malah menarik kepala mereka berdua dan membelakangi nona kepompong putih itu. Lalu, aku berkata dengan suara lirih,

"Di mana letak keburukannya?!"

".…..Dia gadis yang sangat cantik."

"Ya, dia seperti boneka."

Putra Mahkota dan Raul mengangguk, jadi aku mengeratkan lenganku di leher mereka.

"Sa-sakit!"

"Hentikan, Komandan!!"

"Bagaimana ini?! Gadis secantik itu, bagaimana ini?!"

Aku menggeram sambil menggoyangkan lenganku yang melingkari leher mereka.

"Pasangannya adalah aku?!"

"Tidak masalah, kan, dia gadis yang cantik... Oi, Raul akan mati."

"Guh... gufuuuu..."

Raul mengeluarkan suara erangan aneh dan hampir jatuh berlutut.

"Anu... apa aku membuatmu, tidak nyaman?"

Mendengar suara semerdu lonceng, aku refleks menoleh.

Pada saat yang sama, Putra Mahkota dan Raul yang kupegang dengan masing-masing tanganku juga dipaksa untuk berbalik. Mereka berdua mengerang, "Gufuu."

Di depan altar.

Gadis yang berdiri sendirian, diterangi cahaya dari jendela kaca patri, menatapku dengan mata ungu dan membuka bibir merah mudanya.

"Apakah penampilanku, membuatmu tidak nyaman?"

Aku menatapnya dengan linglung saat dia bertanya lagi.

Ekspresinya...

Matanya...

Setiap helai rambutnya...

Semuanya dipenuhi dengan kesedihan.

"Tidak!"

Tanpa sadar, aku berteriak.

Aku melempar Putra Mahkota dan Raul, lalu berdiri tegak dengan tangan mengepal.

"Aku bingung harus berbuat apa karena kamu terlalu imut! Kamu terlalu baik untukku... Di mana aku harus memulainya... Tidak, tidak, tidak! Bukan memulainya! Sebentar... ini buruk. Aku tidak bisa berpikir jernih... Bisakah kamu memberiku waktu sebentar?!"

Suaraku bergema beberapa kali di katedral, lalu perlahan menghilang. Sampai suaraku menghilang, tidak ada yang bersuara.

"Pfft," Ibu yang pertama kali tertawa.

"Astaga, anak ini. Apa yang dia katakan?!"

"Tuan Balmore, maafkan dia. Putra ketigaku ini suka berkeliaran di perbatasan. Sepertinya dia tidak tahan dengan wanita cantik."

Ayah meminta maaf pada Tuan Balmore, tapi ucapannya sangat menyesatkan.

Seolah-olah aku hanya berlari-lari seperti orang bodoh. Aku sedang menjalankan tugas, tapi kenapa aku dibilang begitu?

"Tidak, aku... Aku lega. Aku sangat tersentuh."

Tuan Balmore tersenyum lembut, sangat berbeda dengan saat aku melihatnya tiga bulan lalu. Sepertinya matanya bahkan sedikit berkaca-kaca.

Ah, dia pasti sedih melihat putrinya ditolak di depan begitu banyak orang.

Putra Mahkota Arios benar-benar jahat.

Bahkan ayahnya merasa seperti itu. Betapa terlukanya dia?

Aku melihat ke arah nona kepompong putih itu.

Tidak.

Sekarang kerudungnya sudah terbuka, jadi dia bukan lagi kepompong putih.

Dia Nona Citroen.

Dia menatapku dengan pipi semerah buah persik.

Mata ungunya berkaca-kaca, dan anting-anting yang terbuat dari batu permata dengan warna yang sama sedikit bergetar. Sepertinya dia gemetar.

Pelayan pribadi wanita yang berdiri di sampingnya... pingsan dan menangis di kaki Nona Citroen.

Dia berkata, "Aku senang untukmu, Nona." Ini benar-benar tidak bisa dibiarkan.

"Dengar, Saryu."

Putra Mahkota, yang entah bagaimana sudah pulih, memerintahkanku.

"Pergilah ke samping nona muda itu, tarik napas dalam-dalam, lalu hitung satu, dua, tiga, dan cium keningnya."

Dia menjelaskan seperti sedang mengajari keponakannya yang berusia dua tahun tentang sopan santun.

"Jangan sampai komandan menanduknya karena terlalu bersemangat. Karena tinggi badan kalian berbeda, kau harus membungkuk, kalau tidak, itu akan menjadi cium kening di udara."

Raul menambahkan dengan cepat. Apa kau juga menganggapku anak berusia dua tahun?

Mencium kening itu mudah. Lihat saja.

"Ayo, ayo. Jangan buat tunanganmu menunggu. Lagipula, masih ada acara lain setelah ini."

Putra Mahkota mendorong punggungku.

Memang, benar juga.

Setelah ini, Nona Citroen akan berganti gaun dan pergi ke aula resepsi, bertemu dengan semua kerabatku, lalu makan malam bersama. 

Setelah itu, aku akan mengajaknya berkeliling istana, melihat-lihat ruang arsip tempat menyimpan potret leluhur dan dokumen-dokumen kuno, baru setelah itu acara selesai.

Mulai malam ini, dia akan tinggal di rumahku.

Biasanya, pasangan akan tinggal bersama setelah menikah, tapi karena pertunangan sebelumnya dibatalkan secara sepihak, Kerajaan Tania sangat berhati-hati. Sepertinya Raja Tania memerintahkan Nona Citroen untuk 『Tinggal bersama segera setelah upacara pertunangan』.

Mungkin mereka ingin menciptakan fakta yang terjadi dan memastikan pernikahan itu terjadi.

Aku sedikit kasihan padanya.

Tiba-tiba, dia harus tinggal bersama pria yang baru dua kali dia temui...

Keputusan ini seolah-olah semua tanggung jawab ada pada Nona Citroen, padahal pembatalan pertunangan itu sepenuhnya kesalahan Putra Mahkota Arios.

Tapi, keluargaku terus-menerus mengingatkanku, 『Jangan sentuh dia sampai resepsi pernikahan.』

Meskipun aku seorang pangeran, aku anak ketiga, jadi aku tidak akan mengadakan resepsi pernikahan besar-besaran seperti Putra Mahkota yang berlangsung selama seminggu.

Kami hanya akan mengadakan parade di ibu kota untuk memperkenalkan istriku pada rakyat, lalu gereja-gereja di berbagai daerah yang dekat dengan Ibu akan membunyikan lonceng dan mengadakan upacara pemberkatan.

Tapi, jika perut pengantinku sudah besar atau dia mengalami kelelahan parah saat parade, itu akan menyulitkannya. Selain itu, rakyat juga akan terkejut.

Yah, aku mengerti.

Pasti akan ada banyak gosip dan ejekan.

Pada dasarnya, aku tinggal di barak bersama para ksatria, jadi aku tidak peduli dengan apa yang orang katakan. Tapi, Nona Citroen yang akan menjadi istriku harus menghadiri pesta dansa, pesta teh, dan kegiatan amal yang dihadiri banyak wanita.

…...Aku langsung menghela napas hanya dengan membayangkannya.

Ngomong-ngomong, resepsi pernikahan akan diadakan sekitar enam bulan lagi.

Mulai sekarang, beberapa departemen di istana akan sibuk mengurus persiapan dokumen pernikahan, pendaftaran dan pengumuman lambang Nona Citroen, pengaturan tempat resepsi, menghubungi dan mengatur akomodasi untuk keluarga kerajaan dari berbagai negara yang diundang.

Jadi, menurut Putra Mahkota dan kakak keduaku, mulai sekarang sampai resepsi pernikahan adalah hari-hari yang penuh cobaan.

Jangan pernah menyentuh tunanganmu.

Aku sedikit ragu saat mendekati Nona Citroen.

Karena aku berasumsi bahwa dia bukan tipeku...

Kupikir ini akan mudah! Aku hanya perlu minum teh dan makan bersamanya, dan enam bulan akan berlalu dengan cepat! Tapi...

Ini buruk. Dia sangat imut.

Dia menyerangku tepat di titik kelemahanku.

Aku berhenti di depan Nona Citroen dan menatapnya.

…...Apa dia punya pori-pori? Kulitnya sangat mulus.

Dan rambutnya, apa itu benar-benar rambut manusia? Apa itu terbuat dari sutra atau semacam serat yang dipakai bidadari?!

Aku jadi ingin menyentuhnya kalau terus melihatnya. Bahaya, bahaya.

Aku berdeham.

"Kalau begitu..."

Aku tidak tahu apa maksud dari "kalau begitu", tapi aku tetap mengatakannya.

Aku kembali berhadapan dengan Nona Citroen.

"Permisi."

Saat aku berkata begitu, dia menjawab dengan pelan, "Baik."

Lalu, dia mengangkat dagunya untuk menatapku dan perlahan menutup matanya. Aku merasa seperti terkena serangan kritis.

Ya ampun!

Kekuatan serangannya luar biasa!

Dia imut saat tidak berdaya! Dia imut dan tidak berdaya! Keberadaannya adalah dosa!

Saat aku tanpa sadar hendak mencium bibirnya, aku mendengar suara dehaman dari belakang. Aku melirik ke arah para tamu undangan. Putra Mahkota berkata, "Kening!" Cih.

Mau tidak mau, aku memegang kedua bahu Nona Citroen. Dia tersentak dan sedikit gemetar dengan mata masih terpejam.

Aduh. Seharusnya aku menyentuhnya dengan lebih lembut. Dari telapak tanganku, aku bisa merasakan betapa rapuhnya dia. Tubuhnya sangat berbeda denganku.

….…Dan gerakannya sangat imut.

Seperti binatang kecil. Seperti kelinci yang sering kulihat di gunung bersalju. Atau mungkin cerpelai?

Rasa ingin tahunya lebih besar daripada rasa takutnya, dan dia mendekat sedikit demi sedikit dengan gerakan khas binatang kecil yang menggemaskan. Bulunya yang lembut dan halus, dan matanya yang besar dan berkaca-kaca.

Ya, matanya besar. Seperti Nona Citroen yang kulihat tadi. Besar dan berbinar. Tangan dan kakinya kecil dan terlihat lemah, tapi saat kusentuh, ternyata empuk dan lembut.

Pasti, jika aku menyentuh kulit Nona Citroen di depanku ini... Apa yang kupikirkan?!

Tidak, tidak, tidak, tidak, tidak!!!!

Singkirkan pikiran kotor itu, aku!!!!

Lakukan seperti yang diperintahkan, cium keningnya! Cium keningnya!

Bukan bibir. Jangan cium bibirnya. Kening, kening, kening, kening.

Aku membungkuk cukup dalam dan mencium keningnya.

Meskipun hanya sesaat, aku bisa merasakan kulitnya yang sehalus porselen. Aku hampir pingsan karena aroma parfum manis yang dia pakai.

"Selamat."

"Selamat."

Tepuk tangan dan ucapan selamat terdengar dari sekeliling. Sepertinya upacara pertunangan sudah selesai.

Bisakah aku bertahan sampai upacara pernikahan...?


◇◇◇◇


Malam harinya.

Di depan kamar tidur Nona Citroen, aku mengepalkan tanganku, bersiap untuk mengetuk pintu.

"Anda tahu, kan, Tuan Muda? Hanya salam. Hanya salam."

"Benar, Komandan. Aku peringatkan, jika kau di sana lebih dari lima belas menit, kami akan mendobrak masuk."

Kepala pelayan dan Raul menekanku dari belakang.

"Berisik, aku tahu. Kenapa kalian tidak percaya padaku?"

Aku menoleh dan memelototi mereka, tapi mereka berdua tetap tenang.

"Yah, setelah melihat Anda di acara perkenalan dan makan malam... Benar, kan, Tuan Raul?"

"Ya. 'Ya ampun, dia sudah tergila-gila,' begitu, kan, Kepala Pelayan?"

Mereka berdua mengangguk setuju satu sama lain.

"Tidak, itu... Kami tidak bermesraan, kan?"

Di acara perkenalan, aku hanya menggandeng Nona Citroen dan menundukkan kepala bersama-sama pada semua kerabat.

Dan di acara makan malam, aku terlalu sibuk melayani para tamu sampai berpikir, apa Putra Mahkota melakukan ini setiap hari? Menyebalkan sekali.

"Setiap kali kauu memperkenalkan Nona Citroen pada tamu, wajahmu seperti berkata, 'Istriku sangat imut, kan,' Komandan."

Raul berkata dengan dingin.

Aku tidak menyadarinya. Sepertinya isi hatiku terbaca jelas.

"Intinya, aku cuma akan mengucapkan selamat malam dan memberitahunya bahwa Vandel akan datang besok."

Aku membelakangi mereka berdua. Meskipun aku sudah selesai bicara, mereka tidak pergi. Sepertinya mereka benar-benar akan menungguku di sini selama lima belas menit.

Aku tidak peduli dan mengetuk pintu tiga kali.

"Ehm... Nona Citroen. Ini aku, Saryu."

"Ya, silakan masuk."

Suara semerdu lonceng terdengar dari balik pintu. Aku memegang kenop pintu.

"Jaga jarak."

"Waktumu lima belas menit."

Kepala pelayan dan Raul berkata dengan cepat.

"Berisik."

Aku mengusir mereka dengan tangan yang tidak memegang kenop pintu, lalu membuka pintu, masuk ke dalam kamar, dan segera menutupnya.

Begitu masuk, aku menyadari bahwa suasana ruangan itu berbeda.

Aku ingat bahwa ruangan ini awalnya digunakan sebagai kamar tamu, tapi kepala pelayan dan kepala pelayan wanita berkata bahwa mereka akan mengubahnya menjadi kamar yang layak untuk nyonya rumah.

Mungkin karena tirai berwarna lembut yang menyerap cahaya lampu dengan lembut, ruangan ini terlihat jauh lebih luas daripada sebelumnya. Tempat tidur berkanopi dengan desain renda yang cantik. Wallpaper dan furniturnya juga telah diganti, membuat ruangan ini menjadi sangat feminin.

Sangat cocok untuk Nona Citroen.

"Terima kasih atas kerja kerasmu tadi, Yang Mulia Pangeran."

Nona Citroen berdiri dari kursi berkaki kucing di tengah ruangan dan menundukkan kepalanya dengan sopan. Aku jadi merasa tidak enak. Sepertinya dia sedang minum teh.

Dia sudah mandi.

Dia mengenakan baju tidur sutra yang berkilau. Panjangnya menutupi pergelangan kakinya, tapi lengannya terbuka. Yah, mungkin memang begitu desainnya.

Ngomong-ngomong...

Entah kenapa, aku mengira tubuhnya dipenuhi Tanda Naga karena kudengar Putra Mahkota Arios membencinya, tapi tidak ada apa pun di lengannya yang ramping dan halus. Hanya ada cahaya oranye dari lampu.

"Ah... Selamat malam..."

Aku gugup melihat betapa cantiknya dia.

Aku merasa seperti sedang melihat sesuatu yang tidak boleh kulihat, jadi aku buru-buru mengalihkan pandanganku.

"Maaf...! Apakah seharusnya aku yang mengunjungimu?"

Dia berkata dengan panik. Aku terkejut dan menggelengkan kepala.

Tidak, seharusnya aku tidak datang. Kita sudah mengucapkan "selamat malam" satu sama lain saat berpisah setelah makan malam.

Sebenarnya, aku ingin langsung mandi dan tidur, tapi aku datang ke sini untuk memberi tahu dia tentang kunjungan Vandel yang tiba-tiba...

"Jika ada yang kurang nyaman di rumah ini, silakan katakan padaku. Aku akan segera mengurusnya."

Ah, seharusnya aku mandi dulu sebelum datang ke sini. Apa aku bau keringat?

Begitu aku mulai berpikir seperti itu, aku tidak berani mendekatinya. Aku tidak akan bisa melakukan hal-hal yang dikhawatirkan Raul.

"Semua orang sangat baik padaku. Aku juga berterima kasih pada Eton."

Dia tersenyum dengan mata menyipit, tapi entah kenapa aku merasa sedih.

Karena kepala pelayan telah melaporkan kepadaku tentang perlakuan yang dia terima di tempat Putra Mahkota Arios.

『Sepertinya dia mengalami banyak kesulitan di tempat tinggal sebelumnya.』

Menurut Eton, pelayan pribadi Nona Citroen yang pingsan karena terlalu banyak menangis di upacara pertunangan, Nona Citroen bahkan tidak diberi makanan yang layak, pakaian yang dia cuci disobek-sobek, dan bahkan barang-barang kecilnya dirusak. Kepala pelayan wanita mengerutkan kening dan berkata kepadaku, 『Kita jadi tahu seperti apa keluarga kerajaan tetangga itu.』

Eton menangis tersedu-sedu sambil meratapi, 『Apa yang telah dilakukan nonaku?』

Awalnya, Nona Citroen berusaha keras untuk memperbaiki hubungannya dengan Putra Mahkota Arios, tapi usahanya tidak membuahkan hasil, dan dua tahun pun berlalu dengan sia-sia.

Lalu, pertunangan mereka dibatalkan.

『Tuan Muda. Ini saatnya Anda menunjukkan kemampuan Anda sebagai seorang pria.』

Kepala pelayan dan kepala pelayan wanita memberiku semangat, tapi...

Meskipun dia diperlakukan dengan buruk, dia tidak menunjukkannya sama sekali.

Jika dia menangis, marah, atau mengeluh seperti Eton, aku bisa menghiburnya atau membuatnya senang.

Aku tidak suka menebak-nebak perasaan seseorang dan berkata, "Kamu pasti sedih, kan?" pada orang yang berpura-pura tidak terluka.

"Anu, Yang Mulia Pangeran."

Dia membuka mulutnya dengan pelan.

"Terima kasih banyak atas bantuanmu."

Dia menundukkan kepalanya dalam-dalam. Aku terkejut.

"Tidak hanya membantuku di upacara pertunangan dengan Putra Mahkota Arios, kamu bahkan melamarku untuk menjadi istrimu..."

"Tidak, tidak, tidak, tidak!"

Aku buru-buru memotongnya.

"Kalau kamu berkata begitu, akulah yang harus meminta maaf padamu, Nona Citroen. Itu..."

Aku menggaruk kepalaku.

"Maafkan aku karena kamu harus bertunangan dengan pria kasar seperti beruang ini. Aku hanya seorang pangeran, dinamanya saja."

Saat aku mengangkat bahu, Nona Citroen melebarkan matanya. Lalu, dia tertawa kecil.

Ugh, imutnya. Apa pun yang dia lakukan terlihat menggemaskan.

"Kamu seperti yang kubayangkan. Kamu tidak berubah."

Tidak berubah?

"Apa, kita pernah bertemu..."

Aku hendak bertanya, "di suatu tempat?", tapi Nona Citroen lebih dulu berkata,

"Apakah kamu, baik-baik saja denganku?"

"Sangat, puas... Ya. Begitulah."

Aku mengangguk dengan cepat. Aduh, aduh. Terlalu bersemangat.

"Syukurlah."

Dia tersenyum dengan pipi merah merona. Aku bisa terus melihatnya selamanya. Bahagia sekali.

Tapi, tiba-tiba aku tersadar.

Benar. Aku harus membicarakan pria menyebalkan itu.

"Ah... sebenarnya..."

"Ya?"

Nona Citroen menatapku dengan bingung.

"Besok, temanku akan datang. Namanya Vandel... Maaf mengganggu waktu istirahatmu, tapi bisakah kamu bertemu dengannya?"

"Tentu saja. Suatu kehormatan untukku."

Tidak, tidak perlu merasa terhormat.

Sebenarnya, aku tidak ingin dia bertemu dengan Vandel, tapi sepertinya Vandel sudah tiba di ibu kota. Dia bertindak cepat.

"Anu..."

Dia berkata dengan ragu-ragu.

"Ya?"

Aku menjawab sambil berpikir, mungkin sudah hampir lima belas menit.

"Apakah, Yang Mulia Pangeran tidak keberatan dengan Tanda Naga?"

Aku terdiam sesaat saat dia bertanya. Karena aku baru saja memikirkan Tanda Naga.

"Kalau kukatakan aku tidak keberatan, itu bohong... Tapi, aku juga tidak terlalu keberatan. Ehm, apa aku harus melihatnya? Mau kulihat?"

Aku bertanya tanpa tahu apa yang benar. Nona Citroen merona sampai ke telinga dan menunduk.

"Tidak. Anu, kamu tidak harus melihatnya... Itu... Apa kamu tidak merasa, jijik?"

"Jijik dengan apa?"

"Tanda Naga..."

"Tidak, tidak sama sekali."

Aku penasaran seperti apa bentuknya. Itu adalah sesuatu yang hanya ada di tubuh keluarga kerajaan. Tanda Naga terletak di tempat yang tertutupi pakaian, dan kita tidak boleh membicarakannya setelah melihatnya. Itu adalah sesuatu yang sangat dihargai dan dijaga oleh semua orang. Jadi, hampir tidak ada kesempatan untuk melihatnya secara langsung.

Lalu dia bilang jijik... Apa maksudnya?

"Itu... Ada pria yang tidak suka melihatnya..."

Nona Citroen berkata dengan sangat hati-hati.

Mungkin Putra Mahkota Arios.

Pasti dia yang mengatakan hal aneh seperti jijik.

"Naga adalah bagian tak terpisahkan dari Kerajaan Tania. Aku menghormati orang yang memiliki Tanda Naga... Aku tidak berpikir yang aneh-aneh."

Aku juga memilih kata-kataku dengan hati-hati.

Sebenarnya, aku ingin berkata, "Abaikan saja orang seperti itu. Lupakan apa yang dikatakan pria itu," tapi kalau dia bisa melupakan atau menertawakannya, dia tidak akan mengatakan hal seperti ini.

"Jika Nona Citroen tidak keberatan, bisakah kamu menunjukkannya padaku?"

Saat aku berkata begitu dengan senyum terlembutku, dia langsung memerah.

Eh, apa? Reaksi macam apa ini?

Apa aku mengatakan sesuatu yang aneh?

"Anu... Aku ingin menunjukkannya padamu, tapi aku belum siap..."

"Siap?"

Aku bertanya tanpa sadar. Nona Citroen meringkuk dan menunjuk ke tengah dadanya. Lalu, dia berkata dengan suara pelan sambil menunduk,

"Karena, letaknya di sini..."

Tepat di belahan dadanya.

"A-apa?! Ti-tidak boleh! Maafkan aku! Anu! Kalau aku melihatnya sekarang, itu...! Ya, itu tidak baik! Tidak, tidak! Belum boleh!"

Aku menahannya dengan kedua tanganku.

Yah, Nona Citroen memang tidak bermaksud menunjukkannya...

Tapi, di dalam bayanganku, Nona Citroen berkata, "Mau melihatnya?", lalu mulai membuka bajunya. Itu berbahaya.

Baju tidurnya jatuh ke lantai, kulit putihnya terlihat, dan di sana ada Tanda Naga... Tapi, aku malah tidak bisa berhenti memperhatikan belahan dadanya!


Belahan dadanya! Dadanya, uwooooooooooooo!

Aku harus mundur! Ini sudah tidak bisa diteruskan!

"Kalau begitu, Nona Citroen. Sampai jumpa besok!"

Aku langsung keluar kamar tanpa menunggu jawabannya.

Seperti dugaanku, Raul dan kepala pelayan sedang menunggu di depan pintu.

"Kenapa wajah anda merah padam?"

"Apa yang kau bayangkan?"

Aku tidak menjawab dan hanya berlari di koridor sambil berteriak, "Uwaaaaaaaa." Tidak ada gunanya.


◇◇◇◇


Keesokan harinya.

Aku bergegas keluar dari markas pasukan ksatria, memberikan instruksi pada Raul sambil menunggang kuda, dan berhasil tiba di rumahku di dalam istana tepat waktu.

Hari ini, kakak keduaku kembali ke negara tempatnya menikah, jadi aku sibuk mengurus keamanannya.

Aku berdecak kesal. Kenapa Vandel harus datang di saat seperti ini?

Saat aku berjalan cepat di koridor, kepala pelayan mengulurkan tangannya.

Aku memberikan sarung tanganku tanpa melihat dan melepaskan jubahku. Karena aku sedang terburu-buru, aku melemparkannya ke belakang, tapi kepala pelayan berhasil menangkapnya.

"Di mana Vandel?"

Tanyaku. Kepala pelayan membungkuk.

"Di ruang tamu. Dia datang tepat waktu."

"Oh, jarang sekali," kataku tanpa sadar.

Aku sudah mengenal Vandel sejak kami di sekolah militer, tapi dia jarang datang tepat waktu.

"Dia membawa banyak hadiah. Anda harus berterima kasih padanya, Tuan Muda."

"Baiklah. Di mana Nona Citroen?"

"Dia sudah siap, tapi sebaiknya Anda bertemu dengan Tuan Vandel dulu, baru setelah itu dia masuk."

"Benar juga."

Pokoknya, aku harus memperingatkan Vandel dulu. Aku tidak tahu apa yang akan dia katakan.

"Terima kasih telah menunggu, Tuan Vandel. Tuan Muda sudah tiba."

Saat kami mendekati ruang tamu, kepala pelayan memberikan semua barang bawaan pada pelayan lain, lalu berjalan ke depanku dan mengetuk pintu dengan cepat. Dia memberi tahu Vandel tentang kedatanganku dengan suara yang tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan.

"Oh, aku sudah lama menunggu, sahabatku."

Wajahku langsung masam mendengar suara itu dari dalam.

"Sahabat apanya, dasar brengsek."

Kepala pelayan membuka pintu. Begitu aku masuk, Vandel yang duduk di sofa langsung berdiri.

Dia merentangkan kedua tangannya dengan dramatis dan berkata, "Ayo, ayo," mengajakku berpelukan.

Aku tidak mau.

Aku mengabaikannya dan hendak duduk di kursi di seberangnya, tapi tiba-tiba dia memelukku dari samping.

(TLN : wkwkwk moga terbiasa, soalnya karakter vandel ini "gay" bait banget, selain perawakannya yang "Pria Cantik", kelakuannya juga kadang suka ngerangkul Saryu, meluk, nyium pipi. Mau dibilang bercanda, tapi gak kek gitu.)



"Lepaskan!"

Aku memukul rahangnya, tapi dia malah menggosokkan pipinya padaku sambil berkata, "Hahaha. Kau pemalu, ya?"

Menyebalkan! Aku melepaskan Vandel dan segera duduk di sofa di seberangnya untuk menjaga jarak.

"Tidak kusangka kau akan menikah lebih dulu dariku. Yah, hidup memang penuh kejutan."

Vandel terkekeh.

Dia masih tinggi dan kurus seperti dulu.

Tingginya memang di bawahku, tapi dia tetap termasuk tinggi. Matanya sipit, dan wajahnya tampan. Tahi lalat di bawah mata kanannya membuatnya terlihat sedikit menggoda.

Meskipun wilayahnya berada di perbatasan dan dia seharusnya selalu berjaga di sana, kulitnya pucat dan tubuhnya kurus. Tapi, jangan tertipu dengan penampilannya. Meskipun tubuhnya ramping, dia ahli dalam pertarungan jarak dekat yang mencolok dan brutal.

Karena gaya bertarungnya yang seperti haus darah, dia dijuluki "Pangeran Vampir" saat di sekolah dulu dan ditakuti oleh para junior.

"Kau tidak berniat menikah, kan?"

Meskipun dia punya banyak pilihan, dia selalu mencari-cari alasan untuk menolak perjodohan. Aku kasihan pada para wanita itu. Seharusnya dia merasakan bagaimana rasanya ditolak.

"Ah, itu hadiah untukmu. Aku tidak tahu kau suka apa, jadi aku memilihnya secara acak."

Vandel duduk dan menunjuk ke sudut ruangan dengan jarinya yang panjang dan ramping.

Aku mengalihkan pandanganku dan terkejut. Ada begitu banyak kotak sampai dindingnya tidak terlihat, dan ada sesuatu yang tidak kuketahui tergantung di langit-langit.

"Apa itu?"

"Paus."

"Di daerahmu, orang-orang memberikan tulang ikan paus sebagai hadiah pertunangan?"

"Aku belum pernah mendengarnya, tapi mungkin di daerahmu begitu?"

Dia masih cerewet seperti dulu.

Aku memelototinya. Vandel mengacak-acak rambut hitamnya dan memiringkan kepalanya.

"Apa kau bekerja hari ini?"

Dia menunjuk seragam militerku. Aku mengangguk.

"Kakak keduaku kembali untuk menghadiri upacara pertunangan. Sekarang, aku sedang memindahkan pasukan pengawal kerajaan dan pasukan ksatria ke perbatasan."

"Apa Tuan Michaela baik-baik saja?"

"Ya, untungnya. Sepertinya ayah mertuanya akan pensiun beberapa tahun lagi, jadi sekarang dia sibuk mengurus penyerahan tugas bersama istrinya yang seorang putri mahkota."

Putri mahkota di sana adalah seorang wanita muda. Saat pertama kali bertemu dengannya, aku terpesona oleh kecantikannya yang tegas.

Aku ingat pernah berpikir bahwa dia dan kakak keduaku, Michaela, yang berwajah androgini, terlihat seperti boneka dengan jenis kelamin terbalik.

"Tapi, kau langsung bekerja setelah upacara pertunangan... Pasti sulit meninggalkan tempat tidur, ya?"

Vandel menyilangkan kakinya yang panjang dan tersenyum nakal. Aku cemberut.

"Aku dilarang menyentuhnya sampai parade pernikahan di ibu kota selesai. Sampai saat itu, hubungan kami harus tetap murni."

"Oh, kasihan sekali."

Saat aku hendak berdiri dan memukulnya karena dia terus-menerus menyeringai, tiba-tiba dia berkata,

"Sepertinya Federasi Caravan sedang kacau."

Vandel berkata tiba-tiba sambil bersandar di sofa dengan posisi yang tidak sopan.

"Kacau?"

Aku terlalu sibuk dengan upacara pertunanganku sendiri sampai lupa dengan negara itu.

"Raja Tania sangat marah pada Putra Mahkota Kerajaan Luminas."

"Wajar saja. Perilakunya sangat buruk."

Aku jadi merasa tidak enak saat mengingatnya.

"Karena Putra Mahkota menghina keluarganya yang memiliki Tanda Naga, Raja Tania menghentikan perdagangan sumber daya mineral dengan Kerajaan Luminas."

"Oh ya?"

Tentu saja, bukan hanya Kerajaan Tania yang memiliki sumber daya mineral. Mereka bisa mendapatkannya dari negara lain, tapi karena Kerajaan Tania menghentikan perdagangan, mereka tidak bisa langsung meminta bantuan dari negara lain.

Batu bara, baja, berbagai jenis bijih. Seharusnya, semua itu diedarkan di dalam Federasi Caravan.

"Raja Noie terus meminta maaf, dan Putra Mahkota Arios dikurung di sebuah ruangan di istana sebagai hukuman..."

"Yah, dia mungkin hanya dikurung. Tidak sampai diikat, kan?"

Aku bertanya. Vandel hanya tertawa sebagai jawaban.

"Raja itu selalu bersikap lunak pada putranya. Hukuman ringan itu juga akan dicabut dalam beberapa hari. Tiga kerajaan lainnya kesal dengan hukuman yang terlalu ringan itu. Mungkin akan ada resolusi untuk mencopot Raja Noie."

Jika itu terjadi, pemilihan akan dimulai, dan Raja Terpilih yang baru akan ditunjuk. Dengan begitu, lima kerajaan itu akan bersatu kembali.

"Lalu? Di mana putri cantik yang menjadi penyebab semua ini?"

Vandel menghela napas panjang dan kembali bersandar di sofa dengan malas.

Aku selalu berpikir bahwa kulitnya pucat, tapi hari ini dia terlihat lebih pucat.

"Apa kau sakit?"

Aku bertanya tanpa sadar. Dia tersenyum licik.

"Senang sekali. Aku jadi ingin menggigitmu saat pria tampan mengkhawatirkanku."

"Cukup dengan wanita saja."

Saat aku menoleh karena merasa rugi telah mengkhawatirkannya,

"Permisi. Saya telah membawa Nona Citroen."

Suara kepala pelayan terdengar setelah ketukan pintu.

"Oh, akhirnya bertemu juga."

Vandel mengangkat sebelah alisnya dengan berlebihan, merapikan dasinya, dan berdiri.

Yah, dia memang berdiri, tapi...

Tiba-tiba...

Matanya berputar ke atas, dan dia hampir jatuh ke belakang.

Tanpa sadar, aku melompat dari sofa, melewati meja, dan menangkap Vandel.

"Oi, kau baik-baik saja?"

Aku mengguncangnya sambil merangkulnya.

Meskipun bertubuh kurus, dia seorang prajurit. Aku merangkulnya dari belakang, tapi dia cukup berat. Jika dia tidak segera sadar dan membetulkan posisinya, kami berdua akan jatuh.

"Tidak, maaf, maaf. Mungkin aku terlalu cepat memacu kuda untuk menjadi orang pertama yang memberimu selamat."

Wajahnya masih pucat, dan keringat dingin mengucur dari dahinya. Tapi, saat aku mendekatkan wajahku, matanya sudah kembali fokus. Tatapan kami bertemu.

Vandel menghela napas pelan dan menepuk-nepuk lenganku yang menopangnya.

"Aku sudah baik-baik saja, maaf."

"Benarkah?"

"Ya. Lagipula, jika aku terus berpelukan denganmu di ruangan tertutup seperti ini, istrimu akan salah paham, kan?"

Dia kembali menyeringai nakal. Aku langsung menoleh.

Kepala pelayan berdiri di ambang pintu, dan Nona Citroen berdiri di belakangnya dengan mata terbelalak. Aku putus asa.

Jika dilihat secara objektif, kami terlihat seperti dua pria yang berpelukan, saling mendekatkan wajah, dan akan berciuman.

"Bukan-begitu, Nona-Citroen."

Aku berkata dengan suara terbata-bata.

Di belakang Nona Citroen, kepala pelayan menatapku dengan dingin, seolah berkata, "Apa yang kalian lakukan?"

Satu-satunya hal yang melegakan adalah Nona Citroen masih bisa tersenyum.

"Meskipun Tuan Vandel sudah lama mengenal Tuan Muda, tidak ada hubungan apa pun di antara mereka, jadi jangan khawatir."

Kepala pelayan berkata begitu pada Nona Citroen dengan suara pelan. Kenapa aku harus disalahpahami dengan orang ini?

"Benar, Nona yang cantik. Aku dan dia adalah teman sejak sekolah."

Lenganku terasa lebih ringan. Sepertinya Vandel sudah bisa berdiri sendiri.

Aku lega, tapi Vandel malah mencium pipiku.

"Hanya sebatas ini hubungan kami."

Dia tertawa, "Hahahaha." Aku berteriak, "Aaaaaaaaaaa," dan memukulnya.

Padahal tadi dia hampir pingsan, tapi dia bisa menghindar dengan mudah dan berjalan ke depan Nona Citroen.

"Dewi yang telah mencuri hati temanku. Bisakah kamu memberiku kehormatan untuk menyapamu?"

Dia membungkuk dengan sopan. Sok keren sekali...

Tapi, dia memang cocok bersikap seperti itu. Aku merasa kesal, tapi... Nona Citroen mengangguk dengan senyum lembut.

Ya, dia memang baik hati.

Bukan hanya senyumnya yang mencuri hatiku.

Gaun yang dia pakai hari ini juga sangat imut. Pakaian yang dia pakai saat sarapan juga imut, tapi ini juga cocok untuknya.

Kenapa dia selalu tepat sasaran? Apa ada komandan di suatu tempat yang memberinya strategi untuk menaklukkan hatiku?

Aku hanya bisa terpana melihatnya, tapi...

Tiba-tiba, aku teringat bahwa kudengar dia hampir dikurung di tempat Putra Mahkota Arios.

Dan Putra Mahkota Arios selalu mengajak Meil ke acara sosial dan jalan-jalan.

Raja Tania dan Tuan Balmore pasti memberikan banyak pakaian dan gaun pada Nona Citroen.

Agar dia tidak malu ke mana pun dia pergi. Agar tidak ada yang bilang dia memakai baju yang sama.

Nona Citroen pasti datang ke Kerajaan Luminas dengan tekad untuk mewakili negaranya, Tania.

Sebagian besar pakaian yang dia miliki sekarang pasti belum pernah dilihat oleh siapa pun di Luminas.

Cocok sekali, imut sekali, cantik sekali.

Tidak ada yang pernah mengatakan itu padanya.

Saat aku sedang kesal memikirkan hal itu, Nona Citroen mengulurkan tangan kanannya pada Vandel. Vandel meraih tangan itu. Aku hampir saja menepisnya.

"Namaku Vandel Seine. Aku membantu ayahku di wilayah Count Seine. Senang bertemu denganmu."

Dia berkata begitu dan mencium punggung tangan Nona Citroen. Itu terlihat sangat indah sampai aku kesal.

"Namaku Citroen Balmore. Senang bertemu denganmu juga."

Bibir merah mudanya tersenyum.

Ah, sayang sekali. Aku ingin menjadi satu-satunya yang melihat senyum itu. Kenapa dia menunjukkannya pada pria ini?

"Begitu ya. Pantas saja temanku langsung jatuh cinta padamu."

Aku ingin memukul Vandel yang menyeringai.

"Tidak mungkin. Akulah yang jatuh cinta."

Nona Citroen berkata dengan malu-malu. Aku menatapnya dengan serius.

Melihat telinganya yang memerah dan pipinya yang merona, sepertinya dia jujur.

Aku sangat senang, tapi di saat yang sama, aku ingin bertanya, "Apa kamu yakin denganku?"

"Kamu memang punya selera yang bagus karena bisa melihat betapa berharganya pria ini."

Vandel menggandeng tangan Nona Citroen dan mengantarnya ke sofa.

"Siapkan Teh."

Aku memanggil kepala pelayan.

Kepala pelayan itu membungkuk dan keluar ruangan, seolah berkata, "Akhirnya drama ini selesai."

Aku duduk di samping Nona Citroen, dan Vandel duduk di hadapan kami.

"Itu, hadiah darinya."

Aku berbisik di telinga Nona Citroen. Dia tersentak geli dan melihat ke arah yang kutunjuk.

"Wah! Tulang itu, paus? Atau lumba-lumba?"

Aku terkejut. Dia tahu banyak.

"Apa kamu pernah melihat paus atau lumba-lumba?"

Kerajaan Tania adalah daerah pegunungan yang jauh dari laut. Kupikir mereka mengimpor hasil laut dari kerajaan lain di Federasi Caravan.

"Itu... Kerangka mereka. Dari guru privatku."

Nona Citroen menjelaskan dengan panik.

"Ah, begitu. Memang pernah populer. Kerangka."

Studi geologi pernah populer sekitar sepuluh tahun yang lalu.

Kerangka reptil raksasa ditemukan, dan tulang belulang hewan besar yang tidak diketahui bentuknya muncul dari lapisan tanah kuno, memicu tren kerangka besar-besaran.

Di rumah-rumah saudagar kaya dan istana, berbagai kerangka tergantung di langit-langit seperti mobile.

"Senang sekali kamu menyukainya."

Vandel tertawa.

"Jangan bilang semua kotak itu berisi tulang?"

Aku berkata sinis, tapi Vandel tetap tenang.

"Sepertinya ada juga bulu dan jerami kering di sana."

Oi, bawalah sesuatu yang lebih normal, dasar.

"Ngomong-ngomong, gaun itu sangat cocok untukmu."

Vandel mencondongkan tubuh ke depan sambil tersenyum pada Nona Citroen.

"Terima kasih."

Melihat Nona Citroen yang membungkuk, aku langsung cemberut.

Seharusnya aku yang pertama mengatakan itu?!

Seperti dugaanku, Vandel menyeringai puas.

Saat aku menggertakkan gigi karena kesal, Nona Citroen melirikku dengan mata ungunya.

Aku harus mengatakan sesuatu! Sesuatu! Ini giliranku!

"Ah, pakaianmu tadi pagi juga cantik, tapi yang ini juga bagus! Ini... anu... Itu... Sangat cocok untuk awal musim panas! Seperti bunga... Ada buah kecil, kan? Yang merah. Warnanya mirip dengan bunga itu! Karena kulit Nona Citroen putih, gaun ini sangat cocok... Maksudku, terlihat bagus... Anu, ya. Seperti musim... Musim apa? Tidak, bukan itu. Ehm..."

Aku berusaha keras untuk mengeluarkan kata-kata.

Aku sudah tidak tahu apa yang kukatakan, dan Vandel menunduk sambil gemetar. Dia pasti sedang menertawakanku.

Tapi, Nona Citroen menatapku dan tersenyum.

Matanya yang seperti batu kecubung, rambut peraknya yang halus, dan kulit putihnya yang mulus... Setelah semua informasi visual itu memenuhi kepalaku, aku menyadari bahwa Nona Citroen sedang tersenyum.

Dia tersenyum padaku!

Apa ada kebahagiaan yang lebih besar dari ini?

"Yang Mulia Pangeran, aku sangat senang. Terima kasih. Aku senang memakainya."

Dia berkata begitu, lalu sedikit malu-malu dan merapikan gaun sifonnya dengan jari. Itu terlihat seperti dia sedang berusaha agar gaun itu terlihat lebih bagus. Sangat imut. Bagus. Semuanya bagus.

Aku merasakannya, dan aku menyadari.

Ya, hanya merasakannya saja tidak cukup. Aku harus mengatakannya.

Melihat senyum Nona Citroen, aku merasa bahwa aku harus berusaha untuk mengungkapkan perasaanku dengan kata-kata.

Meskipun aku tidak pandai bicara dan caraku berbicara berbelit-belit, aku harus menyampaikan isi hatiku.

Untukku, dan untuk Nona Citroen.

Dengan begitu, kami berdua akan merasa tenang dan bahagia…

Yah, mungkin terkadang itu akan membuatnya khawatir, tapi kalau begitu, aku hanya perlu menambah kosa kataku.

Aku sedikit kesal karena orang yang menyadarkanku akan hal itu adalah... Vandel.

"Permisi, maaf mengganggu."

Saat aku cemberut, kepala pelayan masuk ke ruangan.

Dia menyajikan teh di atas kereta dorong berwarna perak, meletakkan stand kue di atas meja, lalu keluar.

Ngomong-ngomong, aku lapar.

Di piring di stand kue itu, ada kue-kue kecil, macaron, dan scone. Ada juga mentega, tapi sepertinya itu mentega susu. Aku tidak terlalu suka, jadi aku akan pakai selai...

Ah.

Dalam situasi seperti ini, apa aku harus menawarkannya pada wanita terlebih dahulu? Aku mungkin tidak boleh langsung mengambilnya sendiri.

Saat aku melirik Nona Citroen, Vandel menghela napas dan kembali bersandar di sofa.

"...Oi, Vandel. Apa kau sakit?"

"Kan sudah kubilang? Aku hanya lelah. Ada banyak masalah di wilayah Count akhir-akhir ini. Aku terlalu memaksakan diri."

Sumber pendapatan utama wilayah Count Seine adalah bea cukai dan perdagangan barang impor, memanfaatkan lokasinya yang berada di perbatasan. Meskipun daerah itu ramai dan makmur, pasti ada juga penggelapan pajak, pencuri, dan penipu.

Aku berpatroli di pegunungan dan perbatasan darat dengan menunggang kuda, terutama selama musim dingin, tapi Vandel berkeliling menjaga perbatasan sepanjang tahun, jadi dia pasti membutuhkan banyak stamina.

"Apa ini ada hubungannya dengan bandit?"

Aku mengira begitu, tapi Vandel menggelengkan kepalanya dengan ragu. Dia terlihat seperti ingin mengakhiri pembicaraan ini, tapi...

"Anu... bolehkah aku bicara?"

Suara lembut terdengar dari sampingku.

"Eh, ya... Silakan."

Vandel lebih terkejut daripada aku. Dia menatap Nona Citroen dengan bingung.

"Apa Vandel-sama menderita anemia? Apakah kamu sudah memeriksakan diri ke dokter...?"

Nona Citroen mengerutkan alisnya yang indah dan menatap Vandel yang duduk di hadapannya.

"Anemia?"

Entah kenapa, aku merasa itu penyakit yang sering diderita wanita. Wajah mereka akan pucat, lalu mereka pingsan.

"Kenapa kamu berpikir begitu?"

Vandel tidak membenarkan atau membantah.

Dia memegang cangkir teh dengan jari-jarinya dan menyesapnya dengan anggun.

"Kuku."

"Kuku?"

Aku dan Vandel berkata serempak.

"Yang disebut 'kuku sendok'. Sering terjadi pada penderita anemia..."

"Eh, ini?"

Vandel meletakkan cangkirnya di atas piring, lalu membuka telapak tangannya dengan kuku menghadap ke atas.

"Yah... Memang melengkung."

"Seperti pemiliknya, kukunya juga melengkung."

Aku menyela, tapi Vandel mengabaikanku.

"Apa kamu sudah minum obat?"

"Ah. Dokter menyuruhku begitu."

Vandel melirikku.

Eh, apa kau benar-benar anemia?

Tapi, saat mata kami bertemu, dia langsung mengalihkan pandangannya.

Dia terlihat seperti tidak ingin ketahuan.

Dia tampak malu dan canggung. Kenapa dia menunjukkan ekspresi seperti itu?

Saat aku sedang bingung, Vandel mulai berbicara dengan suara pelan.

"Aku merendam paku tua di dalam anggur... lalu meminumnya."

"Begitu."

Nona Citroen mengangguk beberapa kali, lalu memiringkan kepalanya.

"Bagaimana dengan makananmu? Hati babi, ayam..."

Vandel langsung mengerutkan wajahnya. Aku buru-buru menyela.

"Meskipun Vandel dijuluki Pangeran Vampir, dia tidak suka daging sejak dulu..."

Sepertinya indera perasa dan penciumannya sangat sensitif, jadi dia tidak makan daging hewan yang amis.

Nona Citroen mengangguk padaku, lalu kembali menatap Vandel.

"Tadi aku dengar kamu tinggal di perbatasan... Bagaimana dengan ikan?"

Eh, eh? Nona Citroen banyak bicara sekali.

"Aku makan ikan... tapi tidak sampai suka."

Mungkin dia tidak suka amis, jadi dia makan ikan putih tawar dengan bumbu dan garam.

Kalau dipikir-pikir, dia memang hanya makan roti dan sayuran sejak dulu. Sepertinya dia terkadang makan sosis dan ham.

"Ikan cakalang bagus, loh. Bagian merahnya..."

"Bagian merah itu kan harus dibersihkan dulu?"

Wajah Vandel semakin masam.

Yah, aku mengerti. Itu bagian paling amis dari ikan.

"Jika kamu tidak suka baunya, kamu bisa mencucinya dengan air dingin dan merendamnya sebentar. Jika kamu melapisinya dengan tepung dan mencampur remah roti dengan herba kering, baunya akan hilang. Lalu, goreng... Ya, kamu bisa menambahkan lemon atau yang lainnya. Itu akan meningkatkan penyerapan di usus kecil."

"Tingkat penyerapan?"

Aku bertanya tanpa sadar. Nona Citroen menatapku dengan mata ungunya dan mengangguk.

"Bukan berarti kamu hanya perlu makan makanan yang kaya zat besi dan bergizi. Ada cara yang benar untuk makan. Jika anemiamu bukan disebabkan oleh gangguan organ dalam, kamu bisa memperbaiki kondisi tubuhmu dengan mengatur pola makan."

"Zat besi... Apa kita makan besi?"

Aku bertanya dengan rasa penasaran. Nona Citroen mengangguk.

"Kita tidak benar-benar makan besi. Zat besi juga terkandung dalam makanan. Seperti yang Vandel-sama bilang tadi, minum anggur yang direndam paku adalah salah satu cara pengobatan tradisional. Zat besi dari paku akan larut ke dalam anggur, jadi kita meminumnya untuk memperbaiki kondisi tubuh."

Kata-kata Nona Citroen terdengar lancar.

"Tapi, penting juga untuk memperhatikan makanan sehari-hari. Hati babi, sapi, dan ayam kaya akan zat besi dan mudah diserap tubuh, tapi makan makanan yang tidak disukai setiap hari hanya akan menyiksa. Ada juga makanan lain yang kaya zat besi."

Nona Citroen melanjutkan penjelasannya pada Vandel.

"Misalnya, bayam dan rumput laut. Kacang-kacangan seperti kedelai dan kacang merah. Tapi, zat besi yang terkandung dalam tumbuhan seperti itu sulit diserap usus manusia. Jadi, meskipun kamu makan banyak, tubuhmu tidak akan bisa menyerapnya sebaik hati hewan. Namun, kamu bisa meningkatkan tingkat penyerapannya dengan memadukannya dengan makanan lain."

"Memadukannya? Maksudmu, makan bersama makanan lain?"

Vandel bertanya dengan penuh minat.

"Efeknya akan meningkat jika dimakan bersama vitamin C atau asam sitrat."

"Vitamin C atau asam sitrat?"

Aku dan Vandel kembali berkata serempak. Apa-apaan ini? Pertama, bahasa apa itu?

"Etto... Buah-buahan dan cuka. Lebih baik memakannya bersama makanan itu... Aku rasa kamu bisa mengolahnya dengan cara yang berbeda. Membuat acar, atau minum jus jeruk saat makan."

"Hee."

Aku dan Vandel berkata serempak seperti orang bodoh, lalu saling bertatapan.

Dia tiba-tiba memalingkan wajahnya dan cemberut seperti anak kecil.

"Anemia... Kamu pasti mengira itu penyakit wanita, kan?"

Aku hampir saja berkata, "Ya," tapi aku menahan diri. Aku merasa akan melukai harga dirinya.

Jadi, dia tidak mau mengaku padaku kalau dia anemia dan sedang tidak enak badan. Dia masih suka menjaga imagenya. Lagipula, tidak ada gunanya dia sok keren di depanku.

"Tidak ada penyakit khusus pria atau wanita."

Aku berkata begitu sebagai gantinya.

"Benar. Tidak ada perbedaan antara pria dan wanita dalam hal penderitaan akibat penyakit. Semuanya sama-sama menderita."

Nona Citroen tersenyum manis di sampingku.

"Jika anemiamu membaik, kamu akan merasa jauh lebih baik. Orang-orang akan berkata, 'Ternyata bernapas itu sangat mudah! Kenapa aku tidak tahu dari dulu?'"

Jadi...

Nona Citroen mengepalkan tangannya di atas pangkuannya.

"Ayo, makan yang banyak."

"...Kamu seperti dokter."

Saat aku mengatakan apa yang kupikirkan, Nona Citroen sedikit melompat dari sofa. Kurasa dia melayang beberapa sentimeter.

"Ti-tidak, tidak, tidak, tidak, bukan, bukan, bukan, tidak, tidak, tidak, tidak, tidak, tidak, tidak, tidak."

Di tengah kalimat, dia mulai menggumamkan "tidak, tidak" atau "bukan, bukan".

Dia terus mengulanginya sambil menggelengkan kepalanya. Akhirnya, dia mungkin pusing dan menyandarkan tubuhnya padaku. Dia berkata, "Ah, maaf," lalu pindah ke ujung sofa.

Makhluk apa ini? Imut sekali. Apa yang harus kulakukan?

"Apa kamu punya pengetahuan medis?"

Suara berat Vandel bergema di ruangan itu. Suasana menegang.

"Kerajaan Tania adalah daerah pegunungan di pedalaman. Maaf, tapi aku tidak punya hubungan dengan wilayah Count-mu... Apakah ayahmu, Tuan Balmore, adalah dokter kerajaan atau semacamnya?"

"Tidak, itu..."

Nona Citroen yang tadi memerah sekarang menjadi pucat dan tergagap. Melihatnya seperti itu, aku sedikit khawatir. Apa ini ada hubungannya dengan rahasia negara?

"Di mana kamu belajar tentang medis?"

Aku bertanya sambil melirik Vandel.

Nona Citroen menatapku dengan canggung.

Tapi, dia hanya diam.

"Itu... Maaf, tapi apa perkataan Nona Citroen benar? Apa anemia Vandel benar-benar akan sembuh jika dia makan seperti itu?"

Aku sedikit khawatir karena perkataanku mungkin terlalu kasar, tapi Nona Citroen mengangguk dengan lega.

"Meskipun ada perbedaan individu, aku rasa apa yang aku katakan tadi tidak salah. Selama bukan karena penyakit dalam, anemiamu akan membaik dengan cara ini. Kuku Vandel-sama berbentuk sendok dan ada garis-garis di permukaannya. Itu menunjukkan bahwa dia kekurangan gizi saat kuku itu tumbuh. Mungkin, pola makannya memang buruk."

"Pola makannya buruk meskipun dia putra seorang Count? Bagaimana bisa, Vandel?"

Saat masih sekolah, dia terpaksa makan di kantin sekolah, tapi begitu dia pulang, dia melakukan apa pun yang dia mau.

"Kamu memang bukan dokter, kan?"

Vandel bertanya lagi. Menyebalkan sekali. Kupikir tidak masalah meskipun dia bukan dokter.

"Aku... bukan dokter. Tapi, percayalah. Pengetahuanku tidak salah. Jika kamu mengikuti pola makan yang aku sarankan, kondisi tubuhmu akan membaik, dan kata-kataku akan terbukti benar."

Nona Citroen berkata dengan tegas sambil mengepalkan tangannya.

"Begitu... Kamu bukan dokter, tapi kamu punya pengetahuan medis. Ini mungkin berguna."

"Hm?"

Dia tiba-tiba berkata begitu saat mata kami bertemu.

"Hei, Saryu."

"Apa?"

"Kapan hari tercepat kalian bisa datang ke wilayahku?"

"Hah?"

Aku bersuara bodoh.

Vandel meraih kerah bajuku dan menarikku.

Kaki meja bergoyang, dan aroma mentega dan gula yang harum tercium dari bawah.

"Aku akan mengajukan permohonan pada Yang Mulia Raja atas nama ayahku. Kapan? Kapan kalian berdua bisa datang ke wilayah Count-ku?"

Dia bertanya dengan jarak yang sangat dekat sampai hidung kami hampir bersentuhan.

"Aku juga punya pekerjaan..."

"Berapa hari kau bisa menyelesaikannya?"

"...Lima hari, mungkin."

"Kalau begitu, perjalanan paling lama tujuh hari... Baiklah, aku akan memberi tahu ayahku."

Begitu dia selesai bicara, dia mencium pipiku lagi.

"Menyebalkan!"

Aku mendorongnya. Vandel berdiri dengan anggun dan membungkuk pada Nona Citroen.

"Kalau begitu, aku akan menunggumu di wilayah ayahku, Nona yang misterius."

Vandel keluar ruangan dengan senyum menawannya yang biasa.

Begitulah... rencana kepergianku ke wilayah Count Seine bersama Nona Citroen telah diputuskan.

0

Penulis blog

Rion
Rion
Suaminya Nilou